NGAWI – Kelompok 182 Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Maret Surakarta meluncurkan program inovatif bertajuk “Gerakan Sadar Hama untuk Mewujudkan Pertanian Ramah Lingkungan melalui Rubuha sebagai Alternatif Pengendalian Hama”. Kegiatan kolaboratif ini dilaksanakan bersama kelompok tani Nglencong Sari 3 di area persawahan Desa Dempel, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Program tersebut dirancang untuk membantu para petani mengatasi serangan hama terutama tikus secara alami tanpa mengandalkan bahan kimia berbahaya yang berpotensi merusak tanah.
Inisiatif ini lahir sebagai respon atas keresahan para petani lokal terhadap maraknya serangan hama tikus yang memicu penurunan produktivitas hasil panen secara signifikan. Penggunaan racun kimia maupun cara-cara berbahaya seperti sengatan listrik selama ini dinilai kurang efektif serta berisiko mengganggu ekosistem dan keselamatan jiwa. Oleh karena itu, mahasiswa KKN UNS Kelompok 182 hadir membawa solusi alami melalui pemanfaatan Rumah Burung Hantu (Rubuha) sebagai tempat bersarang bagi burung hantu Tyto alba. Burung hantu dikenal sebagai predator alami unggulan yang mampu berburu ratusan tikus setiap harinya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN UNS tidak bekerja sendiri, melainkan melibatkan jajaran pengurus dan anggota kelompok tani secara intensif. Kerja sama ini dimulai dari tahap identifikasi lapangan, di mana petani membagikan peta persebaran serangan hama serta pola tanam yang selama ini diterapkan. Informasi berharga dari petani menjadi acuan utama bagi tim mahasiswa untuk merancang konstruksi Rubuha yang kokoh dan ramah lingkungan. Proses diskusi mandiri antara mahasiswa dan warga setempat juga dilakukan guna menyamakan persepsi mengenai pentingnya melestarikan keberadaan predator alami. Tahap selanjutnya dilanjutkan dengan penentuan titik lokasi pemancangan Rubuha yang strategis di area pesawahan. Penentuan lokasi dilakukan berdasarkan analisis jelajah berburu burung hantu serta jarak ideal dari pemukiman warga agar burung tidak terganggu. Mahasiswa bersama petani bergotong royong dalam menyiapkan material, merakit tempat bersarang, hingga mendirikan tiang penyangga Rubuha setinggi beberapa meter dari permukaan tanah. Gotong royong yang tercipta di lapangan mencerminkan sinergi positif antara akademisi dan masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan pertanian yang nyata.
Program Gerakan Sadar Hama ini menjadi ruang belajar dua arah yang memberikan manfaat berimbang bagi seluruh pihak yang terlibat. Bagi para mahasiswa, terjun langsung ke lapangan menjadi kesempatan berharga untuk menguji dan menerapkan ilmu akademis yang didapat di bangku kuliah. Sementara itu, bagi kelompok tani, kehadiran mahasiswa membawa dorongan semangat baru serta ide-ide segar dalam mengelola lahan secara modern. Pertukaran pengalaman ini mempererat hubungan emosional antara sivitas akademika UNS dan warga Kabupaten Ngawi.
Keberhasilan program jangka panjang ini sangat bergantung pada keterlibatan serta komitmen berkelanjutan dari masyarakat sekitar. Kelompok tani setempat tidak hanya berpartisipasi aktif pada saat pemasangan Rubuha, tetapi juga telah bersepakat untuk melakukan pemantauan berkala. Petani akan mencatat secara rutin tingkat okupansi atau keberadaan burung hantu di dalam Rubuha yang telah dipasang. Selain itu, warga berjanji akan menjaga kondisi fisik bangunan Rubuha agar tetap aman dari gangguan cuaca maupun pembalakan liar.
Melalui sinergi erat ini, tim KKN UNS Kelompok 182 bersama kelompok tani berharap intensitas serangan hama tikus di lahan persawahan Ngawi dapat ditekan secara nyata. Pengendalian hama berbasis predator alami diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia secara bertahap. Hal ini tidak hanya menghemat biaya operasional produksi pertanian, tetapi juga mampu menjaga kesuburan tanah untuk jangka panjang. Terwujudnya kualitas tanah yang sehat tentu akan berdampak langsung pada peningkatan mutu dan kuantitas hasil panen warga.
Secara lebih luas, program ini diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat tani akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem demi mendukung pertanian berkelanjutan. Kehadiran Rubuha diharapkan memicu kesadaran warga untuk melarang perburuan liar terhadap burung hantu di wilayah mereka. Perlindungan terhadap predator alami merupakan langkah krusial agar rantai makanan di area persawahan tetap stabil dan tidak merugikan salah satu pihak. Kesadaran lingkungan ini menjadi modal utama dalam menciptakan kawasan pertanian yang mandiri dan ramah lingkungan.
Kegiatan peluncuran Gerakan Sadar Hama yang berlangsung pada pertengahan Agustus 2026 ini diakhiri dengan penyerahan pengelolaan Rubuha secara simbolis kepada ketua kelompok tani. Momen ini menandai awal dari komitmen bersama dalam mewujudkan iklim pertanian yang lebih sehat dan berwawasan lingkungan di Kabupaten Ngawi. Tim KKN UNS Kelompok 182 berharap pilar-pilar kolaborasi yang telah dibangun dapat terus dirawat dan direplikasi oleh desa-desa sekitar. Langkah kecil melalui pembuatan Rubuha ini diharapkan menjadi awal bagi lompatan besar menuju ketahanan pangan nasional yang ramah lingkungan.
Editor: Nadira Indriyani
Tanggal: Selasa, 11 Agustus 2026